Catatan: Syaukani Al Karim

Seri Perdana Payung Negeri


Senin, 13 Mei 2024 - 23:25:43 WIB
Seri Perdana Payung Negeri Syaukani Al Karim

Di Klenteng Hun Bi Kuan, Siak Kecil, Bengkalis, perempuan separuh baya itu berjalan dengan bersahaja. Langkahnya tidak diatur-atur agar terlihat anggun. Ia melemparkan senyum kepada setiap orang yang menyapa. Senyumnya merekah dan penuh keriangan. Bukan sebuah senyum plastik hasil  operasi pencitraan dari pedagang kosmetik politik.

Dia menyalami semua orang yang mengulurkan tangan. Tepat di depan sebuah kursi undangan, seorang perempuan tua Tiong Hoa, memberi salam dengan ritus tradisi, dengan meletakkan dua tangan di dada. Dia mengambil tangan perempuan tua itu, dan tak hanya menyalami,  Dia, sambil menunduk, membawa punggung tangan perempuan tua  itu ke wajah dan   dahinya.  Dia menghormati perempuan tua tiong hoa itu, dengan ritual penghormatan seorang perempuan Melayu dan Islam.

Bagi saya, peristiwa beberapa detik itulah pemandangan yang paling indah, dari semua  prosesi yang mungkin  terjadi di tempat itu. Saya memang tak berada di sana, tapi menemukan getarnya, ketika melihat potongan-potongan video yang singgah di laman facebook. Mengapa itu menggetarkan? Karena Jika yang melakukan itu, seorang perempuan biasa atau anak dari perempuan tua itu, meski indah, tapi tentulah bukan sebuah keindahan yang mengagumkan.  Namun, yang melakukan ini, adalah seorang pemimpin puncak, seorang Seri Perdana Payung Negeri. Setiap orang menghormatinya dan ingin menjadi bagian dari inner circle-nya, berebut untuk berada di dekatnya, atau paling tidak, tidak dibenci olehnya.

Peristiwa sekian detik itu, merupakan sebuah kronik keteladanan, dari sekian keteladanan  lain, yang  ada  dan bersemayam dalam segala keterbatasan dirinya selaku makhluk Peristiwa itu mengajarkan kita, bahwa keranggian, kesantunan, kerendahahan hati, dan kebersahajaan, haruslah menjadi sesuatu yang tidak boleh lepas luncas dari diri, sesuatu yang pantang lekang oleh jabatan, tak boleh lapuk oleh kekuasaan, dan kekayaan.

Menjadi rendah hati, dalam kekuasaan, dalam kekayaan, dan kekuatan yang nyaris  paripurna, bukanlah sesuatu yang mudah, karena sifat itu bertentangan dengan hasrat, keniscayaan dan naluri kesombongan. Tapi, Dia,  perempuan itu, dapat melakukannya, dan mengajarkan satu kalimat kearifan, bahwa meskipun kita adalah pemimpin bagi semua orang, tapi tetaplah kita seorang “anak” dari setiap ibu, dan seorang anak, wajib memuliakan seorang Ibu. Inilah sikap yang agung dari kesejatian bangsawan [majestas], sesuatu nan mengacak-acak hati [tremendum], serta puncak indah dalam pandangan mata [fascinosum].

Begitulah semestinya seorang pemimpin dalam dunia Melayu. Tidak hanya berkutat pada meluruskan yang melintang, menyelesaikan yang kusut, atau memastikan adanya beras yang akan ditanak di dapur-dapur rakyatnya,, tapi lebih dari itu, dia juga harus menunjukkan keteladanan dan dapat menjadi sitawar sidingin, dalam pergulatan hidup, yang kadang terasa
sulit dan penuh bahang.

Keramahan, kebersahajaan, empati, rekahan senyum, dan lebar tawa, yang ditunjukkan seorang pemimpin, secara spiritual, akan menumbuhkan suasana teduh, menerbitkan harapan, serta memperkokoh keyakinan rakyat, bahwa segala situasi akan menemukan solusi, pertanyaan akan menemukan jawaban, dan langkah akan sampai pada tujuan. Dengan ikhtiar yang keras untuk memajukan semua bidang, lalu ditambah dengan keteladanan, maka negeri akan bagai telaga di tepi bukit, bagai tasik di bawah gunung.

Ketika berkampanye di Kelapapati Tengah, untuk pencalonannya sebagai bupati  pada 2020  yang lalu, saya mengatakan, bahwa Dia, patut untuk didukung dan dimenangkan, karena selain faktor pendidikan, kemampuan, dan kebaikan spiritual, juga karena Dia seorang perempuan, bukan  sekedar wanita.

Kalau kata “wanita” lebih berkonotasi pada takrif keberanian, maka perempuan, mengatasi itu. Perempuan adalah “empu” yang dalam dirinya ada ke-elokan [bukan kecantikan lahiriah],  sikap keikhlasan akan fitrah, ketangguhan penciptaan, serta kemampuan untuk mengasuh, memelihara, serta memuliakan kehidupan. Sikap perempuan yang ibu, yang melekat pada dirinya, akan menjadi jaminan bahwa Dia, akan bertungkus lumus dalam melaksanakan fungsinya.

Begitu juga ketika memberikan alas fikir bagi gelar kehormatan adat “Seri Perdana Payung Negeri”  yang dianugerahkan kepadanya. Saya menyebutkan, bahwa Dia adalah seorang perempuan yang ranggi tanpa meninggalkan kodrat, dan kuat dalam menjungjung amanah. Dia secara tunak meletakkan diri dalam ruang-ruang kemanusiaan, serta terus mengasah kemampuan untuk mengenal antara kasa dan cindai.

Ternyata, Dia memang mampu menjadi “Payung Negeri” yang memuliakan semua orang, dengan tidak melihat alas suku, agama, ras, dan tingkat kehidupan. Apa yang kita lihat di Kelenteng Hun Bi Kuan,  telah memverifikasi kemampuannya dalam memayungi, meneguhkan gelar adatnya, sekaligus memverifikasi kelas kepemimpinannya.

Kepemimpinan dan sikap kepemimpinan, merupakan sebuah perjanjian suci, yang sudah diikat kuat, disimpai ketat, dan terjaga dalam ruang rahim adat dan kearifan Melayu [Lembaga]. Ianya harus dijaga dan dijalankan sebagaimana mestinya, dan jika amanah kepemimpinan itu dijalankan dengan penuh martabat, maka kita akan selalu memiliki harapan, bahwa negeri Bengkalis pada masa datang akan menjadi negeri yang elok dan menjanjikan.

Tetaplah menjadi pemimpin yang seperti itu, yang tahu duduk pada tempatnya, yang tahu tegak pada layaknya. Seorang pemimpin yang dalam rendah dia tinggi,  yang dalam tinggi dia rendah. Pada yang jauh dia dekat, pada yang dekat pula dia jauh. Lalu teruslah berjuang, untuk menjadikan negeri ini, sebagai negeri yang bermarwah, maju, dan sejahtera.

Saya percaya, bahwa dia akan dapat untuk sampai pada matlamat kepemimpinan yang kita harapkan. Tugas kita adalah mendukungnya, memberikan masukan yang baik, tidak membebaninya dengan hasutan atau merecokinya dengan pikiran dan tindakan yang buruk, tidak membawanya ke tebing-tebing retak, atau ke tubir-tubir jurang. Tugas kita adalah menjaganya agar selalu berada pada jalan yang haq, laluan yang lurus, agar dia dapat menyesuaikan langkah dan lenggang, memadukan madah dengan tingkah, agar darinya setiap “kata” dapat di “kota”, agar hasil yang capai setimpal dengan ikhtiar yang dilakukannya.

Saya percaya dia bisa.  Dia bisa menjadi payung negeri ini, karena dia adalah perempuan yang tangguh nan lembut hati. Karena dia seorang perempuan yang ramah, riang, namun penuh empati. Dia bisa, karena baik  secara harpiah maupun maknawi, dia adalah  seorang Kasmarni. ***

 

Penulis adalah seniman, budayawan
Timbalan Ketua Umum MKA LAMR Provinsi Riau
Ketua Sementara LAMR Kabupaten Bengkalis.