Said Mustafa Husin, Wartawan dan Seniman dari Kuantan Singingi


Selasa, 06 Februari 2024 - 14:03:03 WIB
Said Mustafa Husin, Wartawan dan Seniman dari Kuantan Singingi Said Mustafa Husin

BANYAK tokoh asal Kuantan Singingi yang patut membuat kita bangga. Mulai dari tokoh politik, tokoh agama hingga seniman. Mereka dulunya berkiprah di Jakarta.

Salah satu tokoh yang patut kita ketahui adalah tokoh seniman sekaligus seorang wartawan yang pernah berjaya pada masanya. Dia adalah Said Mustafa Husin alias Buyung Timadijah, yang kini sudah berusia 72 tahun.

Seperti ditulis oleh Maswito mantan wartawan Genta yang kini menjadi ASN di Provinsi Kepri. Wito  tak menyangka, di usia Said yang tidak lagi muda, ternyata Said masih semangat menulis dan melakukan liputan.

"Tua-tua keladi, makin tua makin berisi. Itulah gambaran singkat Said  Musatafa Husin – jurnalis paling senior di Kuantan Singingi, Riau yang masih aktif diusia tuanya," kata Wito.

Orang lebih mengenal namanya  Buyung Timadhijah. Kini diusianya yang mencapai  72 tahun, dia masih aktif menulis dan melakukan liputan.

Dalam usia setua itu banyak  yang sudah istirahat. Tapi tidak dengan Bang Buyung.  Akhir Januari 2024 lalu dia mengikuti Borobudur Writer di Jogjakarta.  Salut…

Banyak generasi muda di Kuantan Singingi saat ini hanya mengenal  Bang Buyung begitu ia akrab disapa hanya seorang jurnalis. Tak banyak yang tau tahun 1970-an, dia adalah pemain drama yang sering tampil di  Taman Ismai Marzuki (TIM) Jakarta.

Saya memperoleh kabar ini bukan dari Bang  Buyung sendiri, tapi dari rekannya  jaman dulu alias “jadul” yang sering tampil mengisi acara bersama Bang Buyung di TIM.  Hal ini diperkuat dengan foto jadul ketika mereka tampil di TIM.

Kepercayaan saya semakin kuat ketika rekannya Asrul Mudha yang kini menetap di Sungai Jering, Kuantan Singingi menceritakan sosok  Bang Buyung.  “Bang Buyung adalah pemain watak dalam setiap pementasan drama,” ujar Asrul.

Asrul menyebutkan ada kisah lucu di antara mereka yang tak mungkin terlupakan. Yakni sama-sama berasal dari Teluk Kuantan dan sama-sama punya nama kecil Buyung.  Untuk membedakan keduanya, seniman Jadul di Jakarta menambah nama belakang mereka.  

“Saya dipanggil Buyung Mudha karena lebih muda. Bang Buyung dipanggil  Buyung Timadhijah sesuai dengan nama orang tuanya,”  jelas Asrul yang dulu sering bertindak sebagai penata artistik di TIM.

Saya mencoba mempertanyakan hal ini kepada Bang Buyung.  Ketika kami sama-sama menjalani liputan  sebagai jurnalis di Kuantan Singingi. Dia hanya tersenyum.  “Ah…. Itu masa lalu. Jangan diungkit kembali…,” katanya tersenyum simpul.

Menurut Asrul  orang Kuantan Singingi pada era 1970-an – 1980-an yang sering tampil mengisi acara di TIM selain mereka adalah  Yohazar alias Otong Lenon dari Benai.  Setelah baru adiknya  Fakhri lalu menyusul Marwan,  dan kareografer Epi Martison tahun 1980-an.

Ketika main ke TIM Jakarta tahun 2012 lalu saya juga melihat dokumentasi foto-foto jadul di TIM.  Saya melihat di antara tumpukan album foto itu ternyata ada  foto masa muda dan remaja Bang Buyung dari Kuantan Singingi. Ah, gantengnya.

Saya bangga dengan Bang Buyung ternyata dia pernah meramaikan panggung teater bersama seniman nasional lain seperti WS Rendra, Putu Wijaya, Soekarno M. Noer,  Idrus Tintin, Ibrahim Sattah, Soertadji Calzoem Bachari,  N. Riantarno,  Ratna Sarumpet, dan lainnya.

Siapa yang tidak bangga! Ternyata  Bang Buyung pernah menjadi bagian dari TIM. Sekarang siapa penggantinya. Saya dengar anak perempuannya bernama Widi sering menjadi event organizier di Jakarta.  

Kata orang buah itu jatuh tidak akan jauh dari batangnya. Begitu juga dengan Widi yang mengikuti ayahnya.  Sudah 20 tahun sudah saya tak bersua dengan Widi gadis cantik nan berbakat alumni SMA Telukkuantan, Kuantan Singingi ini.

Semoga Widi bisa menerusakan estafet seniman Kuantan Singingi di Jakarta.  Perjuangan  Idrus Tintin, Otong Lenon,  Mara Karma, Said Mustafa Husin,  Asrul Mudha,  Anna Tairas, Fakhri Semekot,  Udin Semekot, Marwan, dan Abral Nyanya  harus diteruskan. - hen