Kepala Perwakilan SKK Migas, Rikky (kiri) dan Gubernur Riau, Syamsuar (Kanan)/foto:red RIAUIN.COM - Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta SKK Migas ikut melakukan pengawasan yang ketat terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Syamsuar merasa ada sesuatu yang keliru dan salah dalam penerapan dan pengawasan K3 di PHR. Sejak Blok Rokan diambil alih dari PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) pada 9 Agustus 2021 lalu, sudah 8 orang karyawan mitra kerja PHR tewas di lokasi kerja.
Mereka yang meninggal disebabkan karena sakit jantung dan ada juga yang tewas karena kecelakaan kerja seperti tertimpa besi dan alat berat.
"Memang ini adalah kuasa tuhan. Tapi kuasa ini kalau kita tidak melakukan sesuatu yang keliru, tidak mungkin akan terjadi seperti itu. Chevron berapa lama di Riau ini, berapa orang meninggal? Kan harusnya begitu, kita harus evaluasi kenapa Chevron dulu hampir tak terdengar (karyawan, red) yang meninggal," ujar Syamsuar, Selasa (7/2/2023).
Perihal kematian berantai yang terjadi di PHR baru-baru ini, Syamsuar menyebut hal itu karena kelalaian dan harus menjadi pelajaran bagi SKK Migas.
"Saya ini kan orang Riau, mulai Camat lagi saya di daerah Caltex sampai wilayah berubah sekarang menjadi PHR. Jadi karena itu saya tahu persis, artinya ini adalah kelalaian. Jadi karena itulah tentunya ini harus menjadi pelajaran kepala SKK Migas yang mengawasi. Termasuk perusahaan yang bekerja sebagai tambang," tegasnya.
Syamsuar kembali mempertanyakan kepada SKK Migas soal penerapan dan pengawasan K3 di PHR pada seluruh Sub-kontraktor yang tergabung dengan BUMN itu.
"Pernah tidak bapak melakukan pengecekan persyaratan kerja terhadap kontraktor yang kerja di PHR? Artinya kalau tidak ada sesuatu yang salah, tidak akan mungkin terjadi korban yang begitu banyak terus menerus.
Kata dia, paska Pengawas Disnakertrans Riau melakukan investigasi dan melakukan pengecekan dengan teliti, ditemukan 12 karyawan yang jantungnya bermasalah. Tak berselang lama, satu diantara 12 karyawan tersebut meninggal dunia.
"Berarti kan jelas barang tu, ada kekeliruan dalam hal protap yang berkaitan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Dan itu wajib diperhatikan oleh semua perusahaan, tidak hanya perusahaan minyak, karena itulah ada bulan K3. Jadi rasa saya tak wajarlah kalau terjadi seperti itu kalau memang kita kerja benar sesuai aturan yang berlaku," ucapnya.
Mantan Bupati Siak dua periode ini juga menyinggung persoalan bisnis. Menurutnya, mencari keuntungan itu hal yang wajar, namun jangan sampai ada korban jiwa dalam proses bekerja.
"Cari keuntungan itu boleh saja, semua orang cari keuntungan. Tapi cari keuntungan jangan sampai mengorbankan orang meninggal. Dulu Pak Feri pernah ketemu saya. Saya bilang, coba cek SOP bapak itu. Pak Rikky Rahmat Firdaus (Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut) harusnya ikut mengawasi juga," pungkasnya.
Terpisah sebelumnya, Kepala Dinas (Kadis) Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Riau, Imron Rosyadi mengatakan, kecelakaan kerja yang terjadi di sektor Migas akhir-akhir ini merupakan lemahnya pengawasan dari Ditjen Migas.
"Bahwa kecelakaan kerja yang terjadi di sektor migas akhir-akhir ini di Riau adalah lemahnya pengawasan dari Ditjen Migas. Disnakertrans Provinsi Riau tidak mau terus disalahkan, sebab persepsi perusahaan di sektor Migas mereka sudah mengikuti dan melaksanakan apa yg sudah dipersyaratkan oleh Ditjen Migas," tegas Imron, Senin (6/2/2023) melalu keterangan tertulis.
Untuk itu, pihaknya telah berupaya mengundang perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) guna membahas hal tersebut agar kedepannya tidak terulang lagi. Namun undangan tersebut tidak dipenuhi oleh SKK Migas dengan alasan yang tak jelas.
Berikut daftar nama karyawan mitra kerja PT PHR yang tewas sejak akhir 2021 hingga awal 2023:
1. IZ (25), karyawan PT Asia Petrocom Service yang bekerja pada posisi swamper Lowbed. Meninggal pada Kamis, 9 Desember 2021 akibat tertimpa boom crane di bagian kepala saat proses pemindahan penyangga boom. Peristiwa terjadi di Rig Airlangga-55 Sumur Bekasap-206.
2. SPD (56), karyawan PT Elnusa Fabrikasi Konstruksi. Meninggal pada Rabu, 27 Juli 2022 saat sedang istirahat, mengalami hilang kesimbangan dan tak sadarkan diri. Peristiwa terjadi Manggala North P01/P18 Kabupaten Rokan Hilir.
3. FND (57), karyawan PT PHR. Meninggal pada Sabtu 30 Juli 2022. Bekerja sebagai operator di RS PHR WK Rokan, Duri-Camp. Meninggal karena merasa sesak di dada ketika sedang menaiki tangga lantai dua menuju control room.
4. HMT (53), karyawan PT Asrindo Citraseni Satria. Meninggal pada Kamis 17 November 2022 di Rig ACS-24 lokasi Minas 4A-44, meninggal pada saat menunggu pelaksanaan Daily Check Up (DCU) sebelum mulai bekerja. Ia merasa pusing dan beristirahat di access control.
5. YND (25), karyawan PT Asia Petrocom Service yang bekerja pada posisi operator dozer. Meninggal pada Minggu, 20 November 2022 di Rig APS-752 lokasi Kotabatak 501. Ditemukan tak sadarkan diri ketika sedang beristirahat di dekat unit dozer yang terparkir dan belum melakukan pekerjaan.
6. ER (56), karyawan PT Andalan permata Buana sebagai driver ambulans. Meninggal pada Minggu, 20 November 2022 di Klinik Minas PHR WK Rokan. Saat itu ia sedang beristirahat di kamar driver Klinik Minas ketika menunggu pergantian shift.
7. SUP (59), karyawan PT Berkat Karunia Phala. Meninggal pada Sabtu, 24 Desember 2022 di RSUD Minas. Kala itu ia merasa tidak enak badan dan menghentikan pekerjaan untuk menuju ke Puskesmas. Setelah merasa baik, di perjalanan menuju Pekanbaru, ia merasa sesak nafas dan kembali ke RSUD Minas.
8. DS (22), karyawan PT Asrindo Citraseni Satria yang bekerja sebagai floorman di Rig ACS-06 lokasi Minas 5D-28. Ia meninggal pada Rabu, 18 Januari 2023 karena tertimpa besi Full Opening Safety Valve (FOSV) yang berada di Working Platform (WPF).-dnr