Pungut Uang Seragam Rp1,5 Juta/Siswa, Kepala SMPN 15 Pekanbaru Terancam Dicopot


Senin, 24 Juli 2017 - 10:42:02 WIB
Pungut Uang Seragam Rp1,5 Juta/Siswa, Kepala SMPN 15 Pekanbaru Terancam Dicopot
PEKANBARU, Riauin.com - Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 15 Pekanbaru, Inong Roni, terancam dicopot. Dia melakukan pungutan uang seragam pada penerimaan siswa baru di tahun ajaran 2016/2017 lalu sebesar Rp1,5 juta per siswa. Masalahnya, hingga kini seragam itu belum dibagikan.

Ancaman ini disampaikan Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Pekanbaru, Muhammad Noer, di Pekanbaru, akhir pekan lalu. Dia meminta Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Pekanbaru, Abdul Jamal, mencopot menindak Inong jika terbukti melakukan pungutan dari orang tua siswa.

"Sejak awal Pemerintah Kota Pekanbaru mewanti-wanti, tidak boleh ada pungutan untuk seragam sekolah. Ini sangat membebani para orang tua murid," tegas Noer. "Jika terbukti ada pungutan seragam di sekolah, maka Kadisdik (Abdul Jamal, red) harus mencopot kepala sekolah itu," tambahnya.

Menurut Noer, dalam pembelian seragam khusus sekolah, pihak sekolah hendaknya duduk bersama dengan orang tua murid. "Intinya, tidak boleh memberatkan orang tua murid. Kalau yang bisa dibeli di luar, ya silahkan. Tapi untuk seragam khusus, perlu kesepakatan dengan orang tua," tutur Noer.

Sebelumnya, ratusan orang tua siswa mendatangi SMPN 15 Pekanbaru di Jalan Lembah Sari, Rumbai Pesisir. Mereka menagih seragam anaknya yang sudah dilunasi sejak awal tahun ajaran 2016/2017 lalu.

Sementara itu, Kepala Disdik Pekanbaru, Abdul Jamal, meminta Inong Roni mengembalikan uang seragam siswa telah dipungut dari orang tua siswa. Menurutnya, sekolah telah melanggar aturan karena memungut uang seragam pada pemerimaan murid baru. "Kami minta kepala sekolahnya mengembalikan uang seragam itu pada siswa," tegas Jamal.

Jamal juga mengingatkan Pemko Pekanbaru sudah melarang pungutan pada siswa setiap peneriman siswa baru, termasuk pungutan uang seragam. "Kita akan panggil kepala sekolahnya karena telah melanggar aturan," kata Jamal.

Di sisi lain, Jamal mengaku heran pada orang tua siswa tidak melaporkan pungutan itu sejak awal. Walau begitu, Jamal menjamin bagi siswa yang orang tuanya menagih uang seragam itu tidak mendapat sanksi dari sekolah. "Kalau ada siswa diberi sanksi hanya karena orang tuanya menagih seragam uang itu segera lapor ke saya," katanya.

Dalam pertemuan dengan ratusan orang tua siswa, Inong berkilah masih banyak orang tua siswa belum melunasi uang seragam sehingga seragam belum bisa dibagikan. "Keterlambatan pemberian seragam sekolah karena masih banyak siswa yang belum membayar seragam," kata Inong.

Katanya, dari 226 siswa yang diterima di tahun ajaran 2016/2017, sebagian sudah mendapat seragam. "Tadi ada wali murid yang datang untuk mengambil baju seragam anaknya," cetus kata Inong yang langsung dibalas dengan sorakan tak percaya para wali murid.

Dalam pertemuan itu, orang tua murid menagih pertanggungjawaban Inong selaku Kepala SMPN 15 Pekanbaru atas uang seragam sebesar Rp1,5 juta yang dipungut tahun lalu, namun hingga kini seragamnya belum dibagikan. "Sudah setahun baju seragam anak kami belum diberikan," ketus Dahlia, salah satu orang tua murid.

Atas desakan para orang tua siswa itu, Inong berjanji membagikan seragam itu pada akhir Agustus 2017 ini. Tetapi, orang tua siswa menolaknya. "Kami tidak bisa menunggu hingga akhir Agustus, kami beri waktu satu pekan (minggu, red)," tegas Dahlia.

Seperti diketahui, pada penerimaan siswa baru TA 2016/2017 lalu, SMPN 15 Pekanbaru memungut uang seragam Rp1,5 juta per siswa untuk lima pasang seragam, yakni; putih biru, melayu, olahraga, seragam khusus sekolah, dan pramuka. Namun, hingga kini seragam itu belum juga dibagikan kepada siswa.

Sejumlah orang tua siswa menduga pungutan itu liar karena tidak pihak sekolah tidak memberi kwitansi setelah menerima uang seragam itu dari orang tua siswa. (src)