Bocah Penghafal Quran Tewas Terbakar, Surat untuk Ayah Ibunya Sungguh Memilukan


Kamis, 03 Desember 2020 - 12:38:58 WIB
Bocah Penghafal Quran Tewas Terbakar, Surat untuk Ayah Ibunya Sungguh Memilukan Foto kenangan Amiel bersama orangtuanya dan sepucuk surat yang ia tulis.

RIAUIN.COM - Kisah memilukan bocah laki-laki bernama Amiel Asyraf Abdul Rashid ini menyusup ke hati banyak warganet.

Bocah berusia 11 tahun ini merupakan salah seorang santri yang menjadi korban kebakaran pesantren Tahfiz Darul-Quran Ittifiqayah di Malaysia.

Amiel tewas bersama 21 temannya dan dua perawat di pondok pesantren itu. Setelah kejadian, orangtua Amiel mengungkapkan fakta yang memilukan kepada awak media.

Orangtua Amiel menunjukan isi surat terakhir yang ditulis buah hatinya untuk mereka. Bocah 11 tahun itu memberikan surat atau tak kurang dari 24 jam sebelum kejadian nahas itu terjadi.

Isi surat itu berisi permohonan maaf dan luapan rasa sayang Amiel kepada ibu bapaknya. Amiel mengucapkan terima kasih kepada orangtua yang selama ini dengan sabar menjaganya.

Dalam surat itu Amiel meminta maaf kepada orangtuanya. Ia juga berterima kasih dan mengatakan tidak dapat membalas cinta mereka.

"Ibu dan Ayah, maafkan saya jika saya telah melakukan kesalahan. Amiel sangat mencintai kalian berdua. Terima kasih telah merawat saya selama ini.
Saya tidak tahu bagaimana membalas itu. Dan satu-satunya cara untuk membalasnya adalah dengan belajar di Tahfiz agar ayah dan ibu masuk surga," tulisnya di atas secarik kertas.

Nahas, setelah hari itu, Tahfiz yang terletak di Jalan Datuk Keramat, Kuala Lumpur, tempat Amiel belajar mengalami kebakaran.

Api melahap ruangan-ruangan di sekolah tersebut sekaligus dua guru dan 20 siswa, termasuk Amiel yang kamarnya berada di pusat asrama. Amiel dan gurunya ditemukan tewas bertindihan di dalam bilik asrama.

Sementara beberapa santri dalam kejadian malang itu berhasil menyelamatkan diri dengan memanjat tembok.

Mendapat kabar ini sang ibu tak kuasa menahan tangis, apalagi setiap mengingat surat yang diberikan oleh buah hatinya yang masih berusia 11 tahun itu.

"Anak saya dulu sekolah di Kelantan tapi saya memindahkannya ke sini agar lebih dekat dengan kami," kata Norhayati.

Ia pun menambahkan, orangtua tidak pernah meminta apalagi memaksa Amiel untuk sekolah agama. Sekolah di Tahfiz adalah pilihan Amiel sendiri. 

Dari surat yang ia tulis, Amiel mengakui bahwa keinginannya masuk ke pondok pesantren tak lain karena ingin membalas budi kedua orangtuanya.

Amiel mengungkapkan dengan masuk pondok ia berharap dapat membantu ibu bapaknya masuk ke surga.***