PEKANBARU - Sulitnya mendapatkan udara bersih di tengah bencana kabut asap saat ini membuat masyarakat umum memerlukan bantuan alat tertentu. Dan, masker penyaring udara dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dapat menjadi salah satu alternatifnya.
“Selama ini, warga di Riau maupun di tempat lain yang terkena paparan asap kebakaran hutan menggunakan masker. Ternyata keberadaan masker belum maksimal membantu warga ketika terpapar asap akibat kebakaran hutan,†kata Dr Andi Fittrani, Sabtu (21/9/2019).
Tim UNS melaksanakan pelatihan di Provinsi Riau untuk mengajarkan tata cara pembuatan dan penggunaan alat SUNS. Pelatihan dilaksanakan di gedung Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Sabtu (21/9/2019).
Alat bantu pernapasan diberi nama Surgeons of UNS (SUNS) Portable Air Filter merupakan temuan dari dr Alat tersebut diciptakan tahun 2015 dan sudah dilakukan ujicoba.
“Sudah kami ujicoba dan hasilnya lebih bagus dibandingkan dengan menggunakan masker biasa. Artinya udara yang dihirup ketika menggunakan alat tersebut lebih bersih,†ujar Andi. Masyarakat pun dapat membuat sendiri dengan total biaya sekitar Rp25 ribu.
Dari luar alat ini bentuknya seperti kotak berukuran 15cm x 20cm x 30cm yang terbuat dari bahan mika. Pada salah satu bagiannya terdapat lubang yang diberi penyaring, dan di dalamnya diletakkan busa. Udara bersih yang sudah disaring dialirkan ke hidung melalui selang yang ada.
Mekanisme kerjanya, udara kotor masuk ke kotak humidifier melewati filter depan yang dilembabkan dengan air dan deterjen sebagai penyaring dan diberi aroma theraphy.
Deterjen tersebut bekerja sebagai pengikat karbon atau penyaring sehingga udara bersih dapat dihirup melalui selang dan melewati katup bagian bawah dari masker. Kemudian udara kotor dibuang melalui katup bagian atas dari masker dan keluar dari sistem SUNS.
Berikut bahan-bahan yang digunakan untuk membuat alat pembersih udara ini meliputi kain kristik, kain tipis, perekat lepas pasang, tali bis, tali elastis, filter akuarium, mika tebal, selang aquarium, bola plastik mainan, spons dan sarung tangan/hand scoon.
Sedangkan untuk alat yang digunakan yaitu plaster, spidol, gunting, cutter, penggaris, lem tembak atau lilin dan hecter.
Pada pelatihan yang diikuti oleh berbagai komponen masyarakat tim UNS yang mengajarkan cara pembuatan dan penggunaan kepada puluhan peserta. Kegiatan dilaksanakan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Riau dan didukung penuh oleh Pemprov Riau.
"Alhamdulillah tim sudah memberikan pelatihan di Riau, sehingga diharapkan nantinya masyarakat umum melalui para peserta pelatihan hari ini dapat membuat alat ini. Cara membuat cukup mudah serta bahan yang digunakan mudah didapat. Dan biaya pembuatan sangat murah yaitu per unitnya sekitar Rp 25.000,†imbuh Kepala Dinas Kesehatan Riau Dr Mimi Nazir.**