Balita 18 Bulan Tewas, ini Bukti-bukti Penyiksaan yang Dialaminya


Jumat, 27 Januari 2017 - 22:53:43 WIB
Balita 18 Bulan Tewas, ini Bukti-bukti Penyiksaan yang Dialaminya Ilustrasi Stop Kekerasan pada Anak
Riauin.com, Pekanbaru - Kematian balita MZ, 8 bulan pada beberapa waktu yang lalu cukup menggemparkan di Pekanbaru. Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Riau menduga kematian balita yang diasuh sebuah panti ini mengalami penyiksaan dan penelantaran.

"Dari data rekam medik RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, tempat bayi sempat dirawat sebelum meninggal, ada luka bakar diperut bayi seperti bekas puntung rokok, dan ada luka di dubur bayi yang ditutupi dengan kunyit," kata Ketua LPA Riau, Ester Yuliani yang dikutip dari Antara di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Jumat (27/1/2017).

Pendapat ini pun diamini Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Arifin Achmad, dr Dessy Kustiati. Dikisahkannya, bayi MZ diantar oleh orang yang mengaku dari Panti Asuhan Tunas Bangsa pada tanggal 14 Januari 2017, pukul 22.45 WIB. Berdasarkan rekam medik, lanjutnya, bayi berusia 18 bulan itu tiba dengan kondisi sangat lemah, anemia, mengalami muntah dan diare, dehidrasi ringan-rendah, serta tidak mau makan.

Balita ini awalnya masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), kemudian dipindahkan ke Ruang Merak yang khusus untuk anak, namun kondisinya terus menurun. Meski sudah ditangani oleh dokter spesialis anak dengan berbagai cara, namun nyawa bayi tersebut tidak tertolong lagi dan dinyatakan meninggal dunia pada 15 Januari pukul 04.45 WIB.

Kepala Ruang Perawatan Anak RSUD Arifin Achmad, Yuni Artati, menambahkan bahwa bayi tersebut juga ada luka lecet pada bibirnya dan perutnya terlihat membesar. 

"Ada cacing keluar dari mulutnya, kemungkinan bayi itu cacingan makanya perutnya membesar," kata Yuni Artati.

Keanehan yang muncul ketika bayi dinyatakan meninggal dunia, pihak panti asuhan tidak bisa dihubungi untuk proses mengantar jenazah.

Dengan kondisi-kondisi tersebut, LPA Riau menyatakan ada indikasi kuat telah terjadi eksploitasi terhadap anak-anak di Panti Asuhan Tunas Bangsa di Kota Pekanbaru.

"Pengurus panti asuhan juga baru melaporkan kasus kematian bayi tersebut dua hari setelah kematian kepada kepolisian," katanya.

Ia mengatakan pihak LPA Riau telah melakukan pengecekan kondisi Panti Asuhan Tunas Bangsa dan menemukan kondisi anak dan perlakuan pengurus kepada anak asuh tidak manusiawi.     

"Bangunan sangat tidak layak mulai dari WC sangat jorok, ruang kesehatan lembap penuh air hujan, tempat jemuran sangat jorok, hingga makanan yang diberikan sangat tidak layak dan ada ulatnya. Panti seperti itu seharusnya ditutup agar tidak terjadi eksploitasi anak, supaya jadi pelajaran bagi yang lain kalau tidak bisa mengurus anak-anak dengan baik, jangan buka panti asuhan," tegasnya. (*)