Fasilitas yang sudah disediakan Pemerintah Kota Pekanbaru seperti kursi taman mulai berkarat. Tampak arena permainan anak-anak sudah banyak yang lapuk dan sampah daun berserakan dimana-mana.
Ardi, petugas kebersihan di Danau Buatan ini mengatakan, kawasan wisata tidak terawat disebabkan kurangnya perhatian Pemerintah Kota Pekanbaru. Kawasan wisata yang sempat populer empat tahun silam tak lagi mendapat bantuan dana dari Pemko Pekanbaru.
“Maka itu sekarang sepi, tempatnya saja sudah tidak terawat seperti ini,†katanya ditemui di lokasi wisata itu, Rabu (21/2/2018).
Saat ini untuk biaya perawatan Danau Khayangan, lanjut Ardi, pengelola hanya berharap dari uang masuk pengunjung. Itupun jumlahnya tidak seberapa.
"Karena kurang terawat maka pengunjung yang datang juga sedikit. Setiap pengunjung yang masuh hanya membayar Rp5.000 saja, tak cukup untuk biaya operasional," ungkap Ardi.
Kalau dulu, banyak acara seremoni dan berbagai festival yang digelar di kawasan ini. Seperti Festival Danau Buatan bersempena dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Pekanbaru, bahkan konser band pun pernah digelar di sana.
"Sekarang acara seperti ini sudah tidak pernah lagi diadakan di sini, terkahir tahun 2014 saat HUT Pekanbaru,†jelasnya.
Padahal, lanjutnya, jika dirawat kawasan Wisata Danau Khayangan ini bisa menambah PAD bagi Pemko Pekanbaru.
“Disini banyak sekali yang bisa dinikmati, ada kursi pelangi, wahana permainan bebek air, ada flying fox dan restauran yang berada dibalik bukit ini. Tapi sekarang kondisinya sudah sangat memprihatinkan,†katanya sambil menunjuk letak restauran yang dimaksud.
Seorang pengunjung yang berasal dari Simpang Tiga Pekanbaru, Caca menyayangkan kondisi kawasan wisata ini. Menurutnya, jika dikembangkan, wisata ini bisa menjadi salah satu sumber pendapatan bagi Kota Pekanbaru.
“Inilah Pekanbaru, yang sudah ada malah tidak terawat sama sekali,†ujarnya dengan nada kesal.
Caca berharap, kedepan Pemko Pekanbaru bisa cepat berbenah dan menjaga kawasan wisata yang sudah ada. “Pekanbaru ini minim banget wisata, eh yang ada malah tidak diperhatikan,†pungkasnya. (Andri Yansyah)