Kanal

Pesta Pacu Jalur Berakhir, Warga Teluk Kuantan Dikepung Sampah

 

Laporan: Hendrianto.

RIAUIN.COM— Perhelatan Festival Pacu Jalur (FPJ) yang resmi berakhir pada Minggu, 23 Agustus, menyisakan persoalan penumpukan sampah di kawasan Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing mencatat volume sampah yang ditinggalkan pengunjung dan pedagang mencapai 35 ton per hari selama festival berlangsung.

Plt Kepala DLH Kuansing Dodi Fitriawan mengatakan pihaknya mengerahkan 200 personel kebersihan yang dibagi dalam dua tenggat kerja untuk mengendalikan gunungan sampah tersebut.

"Sekitar 35 ton per hari. Sebanyak 100 orang bertugas dari pagi sampai sore, sementara 100 orang sisanya bersiaga dari malam sampai pagi," kata Dodi, Senin, 24 Agustus.

Kendati festival telah usai, sisa sampah masih menumpuk di sejumlah titik pada Senin pagi. Guna mempercepat pembersihan, seluruh jajaran Pemerintah Daerah Kuansing menggelar aksi gotong royong bersama di lokasi festival.

Petugas kebersihan kini telah memindahkan mayoritas sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Namun, pembersihan total masih terkendala oleh pedagang yang belum sepenuhnya mengosongkan area.

"Sudah terangkut sekitar 25 ton ke TPA. Masih ada tersisa sekitar 10 ton lagi karena masih ada pedagang yang berjualan," ujar Dodi.

Penumpukan puluhan ton sampah di area publik tersebut turut memicu keluhan dari warga setempat yang terdampak langsung pasca-acara.

"Setiap tahun selesai Pacu Jalur kondisinya selalu begini. Bau sampah menyengat dan berserakan sampai ke depan rumah warga. Harusnya pedagang dan pengunjung juga sadar kebersihan, jangan cuma mengandalkan petugas," ujar Roni (42), warga Teluk Kuantan, Senin, 24 Agustus.

Fenomena tahunan ini seharusnya menjadi catatan evaluasi penting bagi Pemkab Kuansing untuk merancang tata kelola berkonsep zero waste pada FPJ mendatang. Sistem penanganan sampah disarankan tidak lagi berfokus pada pembersihan pasca-acara, melainkan pada langkah pencegahan sejak tahap perencanaan.

Pemerintah daerah didorong menerapkan regulasi tegas, seperti kewajiban penggunaan kemasan ramah lingkungan bagi pedagang, skema deposit kebersihan lapak, penyediaan tempat sampah terpilah secara masif, hingga pelibatan relawan untuk mengedukasi pengunjung di area festival.

Festival Pacu Jalur boleh saja usai dengan meriah, tapi urusan perut warga belum selesai. Alih-alih menikmati hasil panen rezeki usai pesta rakyat, warga Teluk Kuantan justru harus memanen 35 ton sampah per hari yang berserakan hingga ke depan pintu rumah. (***) 
 

Ikuti Terus Riauin

Berita Terkait

Berita Terpopuler