"Kalau batik ini namanya motif bumi. Yang ini memang khusus dibuatkan untuk pak Gubernur," kata seorang pengerajin batik binaan dari PT RAPP, Siti Nurbaya, Sabtu (25/11/17).
Pembatik yang sudah menekuni usaha batiknya bertahun-tahun tersebut menyatakan batik motif bumi yang langsung dibuat dari tangannya sendiri tersebut, memang spesial dibuatkan untuk Gubernur Riau.
Apalagi, menurutnya jika dilihat dari gambar motif batik yang memang memiliki arti khusus. Yakni ada ilustri sifat udara, air yang dilukiskan dalam bentuk warna merah, hijau dan putih. Kemudian dibagian bawah ada tulisan Arsyadjuliandi Rachman.
Menurut Siti Nurbaya, dari ilustrasi motif batik bumi itu bisa diartikan, Arsyadjuliandi Rachman adalah seorang pemimpin di bumi ini, khususnya Provinsi Riau. Siti berharap, nantinya batik bermotif bumi akan dapat diterima oleh orang nomor satu di Riau ini.
"Belum ada berkomunikasi. Tapi nanti saya harap pada penutupan acara Kadin nanti jumpa pak Gubernur dan mau menerimanya," ujar Siti lagi.
Lebih lanjut, soal kerajinan yang ditekuninya saat ini, awalnya bukanlah perkara mudah. Membatik yang merupakan salah satu impiannya beberapa tahun lalu itu dia dapatkan ketika mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan oleh PT RAPP.
Jiwa seni khususnya membatik yang memang diimpikannya itu pun langsung tak disia-siakannya. Bersama 50 orang lainnya yang mendapatkan pelatihan membatik di Pangkalan Kerinci, Pelalawan.
Beruntung baginya, selain mendapatkan pelatihan juga mendapatkan modal awal untuk menekuninya lebih lanjut. Namun berkat kegigihannya disamping menyalurkan hobinya membantik, karya-karya batik awal yang dibuatnya tersebut rupanya mendapatkan tempat di hati masyarakat.
Kemudian berbagai motif sampai saat ini sudah dihasilkan. Lima diantaranya bahkan sudah dipatenkan ke Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Yakni, batik motif gelombang bono, kemudian motif akasia, timun suri, euketus serta lakum.
"Lima motif ini sudah kita patenkan. Ada gelombang bono, akasia, timun suri, euketus serta lakum. Kalau euketus ini tanaman bahan baku kertas yang dipakai RAPP. Kemudian kalau Lakum ini merupakan tanaman yang sifatnya hidup menjalar di Sungai Kampar. Belakangan saya baru tahu rupanya tanaman lakum ini tergolong langka," ujar Siti, seperti dilansir dari riauterkini.
Selain itu, Siti mengaku hasil karya batiknya ini sudah dipasarkan di Riau serta beberapa daerah lainnya di Indonesia meski masih terbatas. Namun ketika ada even tertentu di luar negeri, batik kerajinan karya itu juga sering dipajangkan.
Seperti di China, Brazil, Singapura terakhir Aprika Selatan. Sementara khusus lokal di Pekanbaru ada dijual di Hotel Indra Yani serta melalui toko-toko online. Selain itu juga bisa didapatkan di Ruko Bono Andalan, Pangkalan Kerinci.
"Kita juga memasarkan dimedsos seperti facebook kemudian instagram, namanya @rumahbatik andalan," ulas Siti lagi.(nol)